karena setiap orang itu sejatinya memiliki 3 jiwa yang tumbuh dan berkembang bersama dalam dirinya..
egonya
logikanya
nuraninya
setiap saat mereka bertiga saling memperdebatkan hal-hal non eksak yang harus dikerjakan orang tersebut..
setiap waktu si ego selalu mengajak orang tersebut untuk mengerjakan segala sesuatu dengan hanya berdasar kesenangan,
asal dia senang semuannya akan dilakukannya.
ia tak pernah mempertimbangkan salah ataupun benar, baik ataupun buruk atau apapun..
setiap saat juga logikannya selalu mengajak orang tersebut melakukan perbuatan hanya berdasar pandangan logis suatu kasus,
yang ada di mata logika hanyalah hitam dan putih, ia tak memiliki warna lain.
semua hanya berdasar pada jalan pikirannya yang seolah telah memiliki rel-rel yang akan menuntunna pada sesuatu yang ak mungkin berada di luar jalurnya.
ia tak pernah mempertimbangkan apakah sesuatu yang akan ia kerjakan akan baik dimata ataupun perasaan orang lain yang melihat setiap perbuatannya.
hanya benar dan salah, hitam dan putih.
ya, karena memang setiap orang memiliki jalur-jalur berbeda di kepala mereka..
tak pernah ketinggalan, setiap saat nurani menjaga logika dan ego mereka sehingga tetap berada pada rel-rel yang lebih kompleks dibandingkan dengan dua unsur sebelumnya..
nurani tidak hanya menilai segalasesuatu berdasarkan benar atau salah, ataupun ia akan senang atau tidak.
ia tidak seperti ego yang hanya ingin dirinya bahagia, tetapi nurani juga selalu menjaga agar kebahagiaan kita itu tidak mengganggu orang lain,
nurani juga selalu berusaha agar dapat berbahagia bersama orang lain..
ia juga yang selalu menjaga logikanya dengan batasan pantas atau tidak serta baik atau buruk yang tidak pernah dikenal oleh logika..
nurani juga lah yang selalu berusaha mengarahkan logika agar berbuat benar, baik dan pantas sekaligus..
tanpa nurani seseorang akan berbuat yang benar tanpa memikirkan perasaan orang di sekitarnya..
contohnya memberi, orang yang tak punya nurani pasti suatu saat akan memberikan sesuatu pada seseorang, yasudah, hanya memberi saja,
dengan wajah datar atau bahkan memalingkan wajahnya ketika iya sedang melakukan perbuatan yang sebenarnya bisa saja digolongkan sebagai ibadah itu...
tetapi dengan nurani.. seseorang yang memberi akan meninggalkan kesan yang lebih baik pada orang yang menerima..walaupun hanya dengan menambahkan sebuah senyuman saat ia memberi..
tanpa nurani seseorang juga pasti akan behagia meskipun itu tanpa memikirkan kepantasannya..
contohnya memberi, seorang dermawan akan memiliki kebahagiaan tersendiri ketika ia sedang berderma..
tanpa nurani, seorang dermawan mungkin saja membuat pengumuman di masjid jikalau ia akan membagikan sebagian hartanya kepada orang-orang miskin
dan memaksa para tidak mampu berbondong-bondong kerumahnya untuk mengantri 2.5kg beras dan sedikit sembako dengan berdesak-desakan mempertaruhkan nyawa mereka demi sekantong logistik untuk menyambung hidup mereka.
tapi apakah itu pantas??apakah itu memberi??bukan kawan..itu hanya sekedar menukar...menukar sekantong logistik dengan hargadiri bahkan nyawa mereka...
dengan nurani kawan, si dermawan tidak akan memaksa orang-orang yang membutuhkan itu memiskinkan diri membanggakan dan mempertunjukan ketidakmampuan mereka menanggung kebutuhan mereka sendiri..
dengan nurani si dermawan bisa saja menyuruh orang-orangnya untuk mengantar dermanya langsung kepada yang membutuhkan,bukan??
dengan nurani si dermawan akan mendapat kebahagiaan sebagaimana saat ia berderma tanpa meminta sesuatu yang tersisa dari mereka yang membutuhkan..harga diri mereka..
anz